KALAMANTHANA, Muara Teweh – Larangan itu muncul lagi. Tongkang-tongkang pembawa batu bara dan kayu dilarang melewati jembatan KH Hasan Basri di Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Apa penyebabnya?
Ternyata, debit air perdalaman Sungai Barito itu kini di atas normal. “Mulai Kamis (16/6) semua angkutan tambang dan kayu dilarang melewati jembatan karena permukaan air Sungai Barito di atas normal,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Lalulintas Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (LLASDP) pada Dinas Perrhubungan, Komunikasi dan Informatika Barito Utara, Nurdin, di Muara Teweh, Jumat (17/6/2016).
Sejumlah tongkang bermuatan batu bara dan kosong sempat melintasi jembatan KH Hasan Basri pada akhir pekan lalu saat debit Sungai Barito normal, namun kini kembali dilarang berlayar.
Kenaikan debit air di pedalaman Sungai Barito itu akibat curah hujan tinggi, terutama di wilayah utara Kabupaten Murung Raya (Mura) dan sebagian lainnya karena air sungai meluap di kawasan Kabupaten Barito Utara.
Ketinggian air permukaan Sungai Barito pada Jumat pagi tercatat 11,20 meter menunjukkan angka di atas normal, sehingga tongkang dan kapal besar tidak bisa melintas di bawah jembatan sepanjang 270 meter yang dibangun pada 1990 itu.
“Untuk sementara transportasi sungai khususnya angkutan kapal bertonase besar yang bermuatan dari hulu ke hilir dihentikan sampai kondisi air sungai turun,” kata Nurdin.
Ia mengatakan, sebagian besar angkutan kapal tunda (tugboat) dan tongkang batu bara sudah berlayar sebelum ketinggian air Sungai Barito di atas normal.
Namun sejumlah tongkang bermuatan puluhan ribu ton batu bara milik perusahaan pemegang izin kuasa pertambangan (KP) dan pemegang izin perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) terpaksa bersandar di kawasan hutan pinggiran Sungai Barito karena tidak bisa melewati jembatan.
“Sejumlah tongkang masih ada tertahan di wilayah hulu, sebagian besar sudah lewat saat air belum naik,” katanya.
Sementara Kepala Kelompok Tenaga Teknis pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Muara Teweh, Sunardi mengatakan tingkat curah hujan di wilayah Barito Utara tercatat normal dalam bulan Juni 2016 ini hanya 93 milimeter.
“Naiknya air Sungai Barito ini diperkirakan curah hujan di wilayah hulu atau Kabupaten Murung Raya cukup tinggi,” kata Sunardi. (ant/rio)
Discussion about this post