KALAMANTHANA, Jakarta – Kasus dugaan pembunuhan Tetua Dayak Deah menjadi salah satu kasus menonjol yang penanganannya dikawal Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) sepanjang 2025.
Kompolnas sendiri, sepanjang tahun lalu, menyatakan mengawal sejumlah kasus menonjol yang dilakukan Polri. Salah satunya adalah kasus dugaan pembunuhan Tetua Dayak Deah di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Dugaan pembunuhan Tetua Dayak Deah ini ditangani oleh Polda Kalimantan Timur.
Selain kasus dugaan pembunuhan Tetua Dayak Deah, Kompolnas juga mengawal kasus kematian diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Arya Daru yang ditangani Polda Metro Jaya.
“(Kasus Arya Daru) masih kita ikuti terus apa yang diinginkan dari pihak keluarga besarnya karena terakhir telah diterima oleh Polda Metro Jaya. Bagaimana selanjutnya ini juga dikawal,” kata anggota Kompolnas Yusuf di Gedung Kompolnas, Jakarta Selatan, Senin 5 Januari 2026.
Ia merinci pengawasan penanganan kasus menonjol lainnya, yaitu kasus penembakan Kasat Reserse oleh Kabag Ops di Polres Solok Selatan Polda Sumatera Barat. Lalu, kasus penembakan bos rental yang ditangani Polda Banten.
Selanjutnya, kasus penembakan tiga anggota Polri saat melaksanakan penggerebekan judi sabung ayam di Polda Lampung.
Kemudian, melakukan monitoring kasus hilangnya Iptu Tomi Samuel Marbun di wilayah hukum Polda Papua Barat.
Selanjutnya, melaksanakan klarifikasi aksi unjuk rasa Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia dan elemen mahasiswa di Polda Sumatera Barat.
“Termasuk yang terakhir di peristiwa Agustus yang lalu,” ucapnya.
Terakhir, melaksanakan klarifikasi terkait meninggalnya Brigadir Nurhadi, anggota Bidang Propam Polda NTB.
Selain mengawal penanganan sejumlah kasus menonjol, Yusuf mengatakan bahwa Kompolnas juga melaksanakan klarifikasi serta monitoring penanganan saran dan keluhan masyarakat (SKM).
Berdasarkan data surat masuk pada periode Januari hingga Desember 2025, tercatat terdapat 2.830 surat yang diterima.
"Ada 1.291 surat keluhan yang sudah diproses menjadi tidak lanjut Kompolnas," katanya.
Selain itu, Kompolnas mendata lima satuan wilayah (Satwil) Polri dengan jumlah aduan terbanyak yaitu, Polda Metro Jaya sebanyak 237 aduan (31 persen), Polda Sumatera Utara sebanyak 179 aduan (23 persen), Polda Jawa Timur sebanyak 161 aduan (21 persen), Polda Jawa Barat sebanyak 97 aduan (12 persen), dan Mabes Polri sebanyak 86 aduan (11 persen ).
Kompolnas juga mendata aduan berdasarkan jenis satuan kerja, yaitu reserse sebanyak 1196 aduan, propam sebanyak 81 aduan, dan SDM; Brimob; serta Dokkes masing masing satu aduan.
"Sekitar 90 persennya yang dikeluhkan masyarakat, yaitu terkait dengan kinerja penyelidikan dan penyidikan. Itu yang masih dominan," katanya. (*)