KALAMANTHANA, Kuala Kapuas - Belum maksimalnya penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari setor pajak mineral bukan logam dan batuan membuat Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah berupaya untuk mengejot pendapatan tersebut tahun ini.
Kepala BPPRD Kabupaten Kapuas, Andres Nuah, mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 penerimaan pendapatan pajak mineral bukan logam dan batuan hanya terealisasi 64,29 persen dari target Rp 2,3 miliar lebih. "Makanya tahun 2019 PAD ini akan kita gali lagi mengingat tahun 2018 pencapaiannya kurang maksimal," katanya di Kuala Kapuas, Rabu (23/1/2019).
Menurut Andres, upaya yang mereka lakukan pada tahun ini dengan melakukan pendekatan kepada para pengusaha galian. "Kemarin kami sudah melakukan kunjungan ke beberapa tempat penumpukan galian C terutama di daerah Pulau Telo dan di Selat Dalam," ujarnya.
Kedepan BPPRD Kapuas juga akan melakukan penelusuran sampai ke daerah Balawang Kecamatan Kapuas Murung. "Karena disinyalir bahan galian (pasir) yang ditambang di sana di bawa ke luar daerah. Jadi, kami akan berupaya untuk melakuan intensifikasi masalah itu," ucap Andres.
Mantan Asisten II Setda Kapuas ini juga berharap agar para pengusaha penumpukan bahan galian C dapat proaktif untuk melaporkan hasil usahanya sesuai dengan galian yang sudah diambil. Kemudian bagi pemegang izin penambangan pasir seandainya pengusaha galangan membeli pasir kepadanya agar mereka selaku pemegang izinlah yang melaporkan kepada BPPRD Kapuas berapa galian yang diambil.
"Karena ini merupakan kewajiban pihak pengusaha yang menyampaikan laporan dan membayar pajak galiannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku," terang Andres.
Ditambahkan, untuk memaksimalkan pendapatan pajak mineral bukan logam dan batuan diperlukan adanya sinkronisasi, koordinasi dan kerjasama diantara SOPD tekhnis terkait baik Dinas Pol PP maupun Dinas Perhubungan.
"Satpol PP terkait dengan penegakan perdanya dan Dinas Perhubungan terkait dengan angkutan. Karena rata-rata angkutan galian pasir baik dari wilayah Mantangai maupun Balawang itu menggunakan perahu atau tongkang," pungkas Andres Nuah. (is)