Gunung Purei Tampilkan Diplomasi Budaya Lewat Cinderamata Rotan untuk Wamendagri

Penulis: Editor Kalamanthana 25  •  Sabtu, 19 Juli 2025 | 16:12:52 WIB

KALAMANTHANA, Muara Teweh — Momen penyambutan Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Wamendagri RI), Dr. Ribka Haluk, di Kabupaten Barito Utara pada Jumat (18/7/2025), dimanfaatkan secara strategis oleh Kecamatan Gunung Purei untuk memperkenalkan potensi ekonomi kreatif lokal melalui pendekatan diplomasi budaya.

Plt Camat Gunung Purei, Kus Edi Harianto, menyerahkan cinderamata berupa tas dan topi anyaman rotan hasil karya masyarakat desa kepada Wamendagri. Penyerahan ini dilakukan dalam balutan prosesi adat Dayak yang sarat nilai tradisi dan keramahan lokal, menjadikan penyambutan tak hanya bermakna seremonial, tetapi juga sebagai panggung promosi produk unggulan daerah.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Ketua II DPRD Barito Utara, Hj Henny Rosgiaty Rusli, yang menyebutnya sebagai contoh konkret sinergi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

“Ini bukan sekadar simbol penyambutan, tapi sebuah bentuk diplomasi budaya yang bernilai strategis. Produk lokal kita dikenalkan langsung kepada pemerintah pusat melalui pendekatan yang berakar pada kearifan lokal,” ujar Henny, Sabtu (19/7/2025).

Ia menekankan pentingnya mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal seperti kerajinan rotan, bukan hanya sebagai upaya pelestarian, tetapi juga sebagai penguatan ekonomi masyarakat desa.

“Ini bisa menjadi inspirasi bagi kecamatan lain untuk lebih aktif menggali dan mempromosikan potensi khas wilayahnya masing-masing. Apalagi sekarang pemerintah pusat sangat terbuka terhadap pendekatan berbasis lokalitas,” tambahnya.

Penjabat Bupati Barito Utara, Indra Gunawan, turut memberikan dukungan atas inisiatif tersebut. Ia menyebutnya sebagai wujud partisipasi aktif dalam pembangunan daerah yang berakar pada budaya dan pemberdayaan warga.

Cinderamata khas Gunung Purei tersebut menjadi simbol penguat hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung di forum formal, tetapi juga melalui sentuhan budaya yang autentik dan menyentuh hati. (Sly).

Reporter: Editor Kalamanthana 25
Back to top