KALAMANTHANA, Sampit – Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Zainuddin, menyoroti maraknya kemunculan dan serangan buaya terhadap warga di sejumlah wilayah.
Ia menyebut situasi ini semakin meresahkan, sebab populasi buaya kini tidak lagi terpusat di satu kawasan, melainkan sudah menyebar hampir di seluruh aliran sungai dan pesisir Kotim.
“Akhir-akhir ini kita selalu dihebohkan dengan kemunculan buaya bahkan telah memangsa manusia. Populasinya sekarang tidak lagi hanya berada di muara Sungai Mentaya. Dari muara sampai ke hulu, hampir semua tempat ditemukan buaya,” kata Zainuddin di Sampit, Rabu (26/11/2025).
Ia mencontohkan kemunculan buaya yang terjadi di berbagai titik, termasuk Desa Cempaka Mulia, Handil Sohor, Seranggas, hingga kawasan Parebook. Bahkan dalam beberapa kasus, warga terluka parah hingga ada yang kehilangan nyawa.
“Kalau buaya hanya muncul mungkin tidak jadi masalah. Tapi ketika sudah memangsa dan menghilangkan nyawa manusia, ini masalah besar. Hampir setiap bulan kita dengar ada kejadian,” ujarnya.
Menurut Zainuddin, dua faktor utama menyebabkan buaya semakin sering muncul ke permukiman dan lokasi aktivitas warga yaitu kekurangan pakan alami.
"Dahulu, buaya masih banyak mendapatkan makanan dari hewan liar di pesisir sungai. Namun kini populasi mangsa alami berkurang drastis," terangnya.
Selain itu, Rusaknya habitat akibat aktivitas manusia di bantaran sungai diduga juga membuat habitat buaya terganggu, sehingga reptil besar ini mencari ruang hidup baru.
“Sekarang baik ikan maupun hewan lain makin sedikit. Akibatnya mereka kelaparan dan mengganas. Ditambah lagi habitat kita yang banyak rusak,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan temuan bahwa di sejumlah wilayah seperti Satiruk, Cemeti, Bantian, hingga pesisir Laut Hina, banyak ditemukan anak buaya. “Kalau ada anaknya, pasti ada induknya. Artinya populasinya sudah menyebar luas,” tegasnya.
Zainuddin meminta pemerintah daerah segera melakukan langkah nyata bersama instansi terkait, termasuk BKSDA.
“Harus ada solusi. Apakah direlokasi, dilakukan pengamatan, penelitian, atau mekanisme lain yang paling efektif. Kita tidak bisa biarkan terus begini,” imbuhnya.
Kasus terbaru, Setelah tiga hari pencarian, kakek bernama Muhran (63) alias Oyan, yang hilang akibat diserang buaya di Sungai Rangkang, Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, Senin (24/11) sekitar pukul 11.30 WIB.
Politisi PKB yang berasal dari Dapil III ini menilai penanganan yang tidak komprehensif akan membuat ancaman terhadap warga terus berulang. Ia juga mengimbau warga yang beraktivitas di sungai agar meningkatkan kewaspadaan.
“Buaya sekarang tidak hanya di sungai besar. Tapi sudah masuk ke sungai-sungai kecil. Warga harus berhati-hati,” imbaunya.
Menurut sejumlah laporan yang diterimanya, buaya kini juga muncul hingga ke daerah perairan yang lebih jauh seperti kawasan pesisir Laut Hina, yang menurutnya memiliki garis pantai yang cukup luas dan menjadi lokasi buaya berkembang biak. (su)