Satu tahun. Bayangkan rasa sakit yang menjalar setiap detik ketika sebuah cincin besi perlahan "memakan" jari Anda, hingga luka bernanah dan mengeluarkan aroma busuk. Itulah penderitaan yang dibawa Muhammad Lutfi Firdaus, seorang tunawisma asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dalam setiap langkah di aspal panas Trans Kalimantan.
Sabtu kemarin (28/2), saat saya dalam perjalanan pelayanan dari Palangka Raya, menuju Kuala Kapuas, Tangan Kasih Tuhan "menghentikan" laju mobil saya di wilayah Pulang Pisau. Di sana, di pinggir jalan, saya melihat pemandangan yang menyayat hati. Seorang pria berjalan tertatih-tatih dengan tongkat di tangan, sambil menahan nyeri yang tak terbayangkan.
Naluri kemanusiaan tidak boleh kompromi. Saya sadar, hidup saya adalah mandat untuk menjadi saluran berkat. Detik itu juga, koordinasi cepat dilakukan. Saya langsung menghubungi sahabat saya, Pak Hayes Hendra , Inspektur Kabupaten Pulang Pisau. Tanpa birokrasi berbelit, instruksi Sang Inspektur jelas: "Bawa ke IGD RSUD Pulang Pisau, nanti saya minta tim Damkar merapat!"

Perjuangan 2 Jam di IGD cukup menegangkan. Tim Damkar, Mas Beni, Irfan, dan Hendra, datang membawa gerinda kecil, serta beberapa peralatan pendukung lainnya. Mereka bekerja dengan presisi, karena salah sedikit, jari tangan bisa hilang. Dua jam penuh keringat serta doa. Gerinda berderu, membelah keheningan rumah sakit.
Rasa sakitnya luar biasa karena luka sudah membusuk. Tenaga medis bergerak cepat dan beberapa kali menyuntikkan pereda nyeri. Bahkan, dr. Devid Fernando, rela pulang ke rumah demi mengambil tang penjepit khusus untuk memutus cincin yang sudah digerinda. Dan akhirnya... KLIK. Cincin itu menyerah. Cengkeraman besi selama satu tahun itu lepas.
Terima kasih untuk Pemkab Pulang Pisau yang hadir nyata. Tidak ada tagihan medis, yang ada hanyalah pelayanan tulus dari hati. Setelah luka dibersihkan, Lutfi menerima "salam tempel" dari kami, dan dengan wajah ceria yang mungkin sudah lama hilang, ia memilih melanjutkan perjalanannya ke Kota Palangka Raya.
Sebelum berpisah, saya mendoakannya. Memohon agar Sang Pemilik Kehidupan menjaganya di Tengah kehidupan yang keras dan terkadang kejam.
Saya bersama istri tercinta melanjutkan perjalanan ke Kuala Kapuas untuk memimpin ibadah di GKE Desa Hampatung. Namun, ibadah yang sebenarnya sudah dimulai sejak di IGD tadi. Sebab, bukankah melayani sesama adalah bentuk ibadah yang paling nyata?
"Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah." (Ibrani 13:16)
Mari jadi tangan Tuhan bagi mereka yang terlupakan. Karena satu tindakan kecil kita, bisa jadi adalah jawaban atas doa panjang seseorang.
Evangelis Sadagori Henoch Binti, S.I.Kom ( Ririen Binti )
Penginjil Gereja Kalimantan Evangelis