KALAMANTHANA, Jakarta – Sejumlah personel militer AS kecewa dengan serangan ke Iran. Mereka bilang tak ingin mati demi Israel.
Mengutip sebuah sumber, HuffPost melansir publikasi yang menyebutkan banyaknya personel militer AS yang kecewa atas serangan sekutu AS-Israel terhadap Iran.
Publikasi tersebut, yang mewawancarai personel militer, pasukan cadangan, dan organisasi hak asasi manusia yang membela personel militer, mengklaim beberapa personel militer AS yang terlibat dalam konflik ini mengeluh tentang kerentanan, stres berat, kekecewaan, dan kekecewaan, hingga mereka bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan militer.
“Saya mendengar dari mulut para anggota militer kata-kata, 'Kami tidak ingin mati demi Israel — kami tidak ingin menjadi pion politik’,” kata seorang anggota cadangan dan mentor prajurit muda seperti yang dikutip dalam artikel tersebut.
Anggota cadangan lain, yang tetap berhubungan dengan militer yang terlibat dalam konflik tersebut, juga berbicara kepada Huffpost tentang tren serupa.
Publikasi tersebut menekankan bahwa ketidakpuasan di dalam militer AS terkait dengan operasi Washington di Timur Tengah, serta masalah moral di antara para anggota militer, dapat membuat tindakan tersebut kecil kemungkinan berhasil.
Publikasi tersebut mencatat bahwa pasukan cadangan menyebutkan kurangnya narasi yang jelas dan konsisten yang membenarkan perang melawan Iran sebagai faktor utama yang menurunkan moral.
Pada hari Jumat, CBS News melaporkan, mengutip sumber-sumber yang mengetahui informasi tersebut, bahwa Pentagon telah menyiapkan rencana terperinci untuk kemungkinan pengerahan pasukan darat di Iran untuk memberikan pemerintahan Trump berbagai skenario militer di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.
AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari. Iran melancarkan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. (*)