Atlet Kotim Terancam Hengkang, Andriyanto: Jangan Sampai Kotim Kehilangan Marwah

Penulis: Redaksi  •  Sabtu, 04 April 2026 | 15:02:00 WIB

KALAMANTHANA, Sampit - Gelombang tekanan terhadap KONI dan pemerintah daerah terus membesar. Setelah ultimatum 3x24 jam dilayangkan organisasi kepemudaan, kini suara keras juga datang dari kalangan mahasiswa.

Ketua BEM STIE Sampit periode 2024–2026, Andriyanto, menegaskan bahwa ketidakpastian terkait keikutsertaan Kotawaringin Timur dalam Porprov Kalimantan Tengah tidak boleh berujung pada pengorbanan para atlet.

“Ketidakpastian ini jangan sampai menjadi korban bagi para atlet. Mereka sudah berlatih bertahun-tahun, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi untuk bisa membawa nama baik daerah,” tegasnya.

Fenomena mulai berpindahnya atlet ke daerah lain kini bukan lagi isu liar, melainkan kenyataan di lapangan.

Menurut Andriyanto, kondisi ini adalah konsekuensi langsung dari minimnya kepastian yang diberikan.

“Sangat disayangkan jika karena persoalan administrasi dan minimnya kepastian, atlet justru memilih pindah ke daerah lain,” ujarnya.

Situasi ini, kata dia, tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa. Ini adalah tanda bahwa ada yang tidak beres dalam pengelolaan olahraga daerah.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa dampak dari kondisi ini jauh lebih besar dari sekadar kehilangan atlet.

“Ini bukan hanya soal kehilangan atlet, tetapi juga kehilangan potensi prestasi dan simbol kebanggaan daerah,” katanya.

Sebagai daerah dengan status juara umum, Kotawaringin Timur kini berada di titik rawan. Jika atlet-atlet potensial terus hengkang, maka yang hilang bukan hanya peluang medali, tetapi juga identitas daerah sebagai kekuatan olahraga di Kalimantan Tengah.

“Kalau atlet-atlet potensial mulai hengkang, maka yang hilang bukan hanya medali, tapi juga marwah Kotawaringin Timur sebagai daerah juara umum,” lanjutnya.

Peringatan paling keras datang pada potensi daerah lain yang justru diuntungkan dari situasi ini.

“Ini harus jadi alarm serius bagi semua pihak. Jangan sampai daerah lain justru memanfaatkan kondisi ini untuk merekrut atlet-atlet terbaik kita,” tegas Andriyanto.

Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa jika tidak segera diatasi, Kotim bisa kehilangan kekuatan utamanya bahkan sebelum Porprov dimulai.

Dalam pernyataannya, Andriyanto secara tegas meminta KONI dan pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret.

“KONI dan pemerintah daerah harus segera memberikan kepastian terbuka terkait status keikutsertaan kontingen, pendaftaran atlet, hingga timeline persiapan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa atlet tidak bisa terus dibiarkan berada dalam situasi penuh tanda tanya. “Jangan Sampai Kehilangan Lebih Banyak”

Di akhir pernyataannya, ia mengingatkan bahwa waktu tidak berpihak pada Kotim. “Kami berharap ada langkah cepat dan konkret dari KONI. Atlet harus diberi jaminan bahwa mereka tetap bisa bertanding dan membela daerahnya sendiri,” katanya.

“Jangan sampai keterlambatan keputusan membuat Kotim kehilangan lebih banyak atlet, sekaligus kehilangan kehormatan sebagai juara umum.”

Dengan masuknya suara mahasiswa, polemik ini kini tidak lagi hanya menjadi isu olahraga, tetapi telah berkembang menjadi tekanan publik yang luas.

Mulai dari OKP, mahasiswa, hingga atlet sendiri semuanya kini menunggu satu hal yang sama:kepastian.

Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah nyata, bukan tidak mungkin gelombang aksi akan membesar dan persoalan ini akan memasuki babak yang lebih panas. (Darmo)

 

Reporter: Redaksi
Back to top