KALAMANTHANA, Jakarta – Tentara Israel menghancurkan semua kamera pengawas yang menghadap markas besar pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Naqoura, Lebanon selatan.
Juru bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) Kandice Ardiel, menyampaikan informasi itu pada Sabtu (4/4).
Menurut Ardiel, sejak Jumat, tentara Israel telah menghancurkan semua kamera yang membantu memastikan keselamatan dan keamanan personel militer dan sipil di dalam markas UNIFIL di Naqoura.
UNIFIL menyatakan keprihatinan serius atas tindakan Israel itu dan memutuskan untuk mengajukan protes resmi.
Ardiel mengingatkan tentara Israel bahwa mereka wajib memastikan keselamatan dan keamanan personel PBB serta menghormati fasilitas PBB.
Dalam pernyataan terpisah, ia mengonfirmasi bahwa tiga penjaga perdamaian PBB asal Indonesia terluka, dua di antaranya serius, akibat ledakan pada Jumat di fasilitas PBB di dekat El Adeisse, Lebanon selatan.
Tiga prajurit yang gugur dalam tugas tersebut, yakni Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) M. Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon.
Mereka merupakan bagian dari pasukan perdamaian Indonesia yang bertugas di bawah bendera UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).
Tiga prajurit yang gugur tersebut telah menerima kenaikan pangkat luar biasa dari pemerintah sebagai bentuk tanda jasa.
Selain itu, jenazah ketiga prajurit TNI itu juga mendapatkan penghormatan terakhir dari Presiden Prabowo Subianto dan dilakukan upacara penghormatan militer.
UNIFIL telah beroperasi di Lebanon selatan sejak 1978 dan diperluas berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan 1701 setelah perang antara Israel dan Hizbullah meletus pada 2006.
Israel telah melancarkan serangan udara dan operasi darat di Lebanon selatan sejak serangan lintas batas oleh Hizbullah pada 2 Maret, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024.
Otoritas Lebanon menyatakan sedikitnya 1.422 orang tewas dan 4.294 lainnya terluka akibat serangan Israel. (*)