KALAMANTHANA, Sampit – Kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi oleh Pertamina kembali memicu tekanan ekonomi di tingkat masyarakat, khususnya di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, lonjakan harga energi justru mempersempit ruang gerak warga kecil.
Sejumlah jenis BBM mengalami kenaikan signifikan, terutama Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite.
Kenaikan ini langsung berdampak pada biaya operasional harian, terutama bagi pekerja sektor informal yang sangat bergantung pada kendaraan.
Dampak paling terasa kini mulai merambat ke kebutuhan pokok. Biaya distribusi yang meningkat mendorong harga barang ikut naik, membuat beban hidup masyarakat semakin berat tanpa diimbangi peningkatan pendapatan.
Warga menilai pemerintah belum menunjukkan langkah konkret untuk meredam dampak kenaikan tersebut. Kebijakan dinilai hanya berhenti pada penyesuaian harga tanpa perlindungan nyata bagi masyarakat kecil.
“Kalau terus begini, kami yang kecil makin sulit. Penghasilan tidak naik, tapi semua kebutuhan ikut mahal,” ujar Dayat, warga Sampit.
Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kebijakan di atas kertas, tetapi juga memastikan dampaknya di lapangan tidak semakin menekan masyarakat.
“Kami butuh kepastian dan solusi, bukan hanya kenaikan yang terus berulang. Pemerintah harus benar-benar hadir di kondisi seperti ini,” tegasnya.
Data per Sabtu (18/4/2026) menunjukkan lonjakan signifikan pada sejumlah jenis BBM. Pertamax Turbo naik dari Rp13.350 menjadi Rp19.850, Pertamina Dex dari Rp14.800 menjadi Rp24.450, dan Dexlite dari Rp14.500 menjadi Rp24.150. Sementara Pertamax bertahan di Rp12.600, namun tetap dianggap mahal bagi sebagian warga.
Warga pun mendesak adanya langkah cepat, mulai dari pengawasan distribusi BBM subsidi hingga pengendalian harga bahan pokok, agar tekanan ekonomi tidak semakin meluas dan daya beli masyarakat tetap terjaga. (*)