KALAMANTHANA, Jakarta – Di sejumlah kawasan lahan gambut, penurunan muka air sudah mencapai 80 meter. Tiga provinsi di Kalimantan jadi perhatian serius menjelang fenomena el nino godzila.

Fenomena el nino godzila diperkirakan terjadi mulai April hingga Oktober 2025. Puncaknya diprediksi akan memunculkan kondisi terparah pada semester kedua tahun ini.

Tidak hanya kekeringan, el nino godzila juga memunculkan kekhawatiran meluasnya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Terutama di daerah dengan lahan gambut.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq pun meminta jajarannya fokus menangani enam provinsi yang potensial mengalami karhutla di tengah fenomena el nino gidzila.

Tiga dari enam provinsi itu berada di wilayah Kalimantan, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.

Sedangkan tiga lainnya berada di Sumatera. Ketiganya adalah Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Semuanya adalah kawasan yang memiliki lahan gambut yang luas. Karena itu, diperlukan rencana detail dan konkret untuk mengatasinya.

“Tahun ini el nino berkategori rendah hingga moderat, tetapi terjadi pada musim kemarau. Karena itu, dampaknya diproyeksikan lebih signifikan,” kata Hanif Faisol Nurofiq.

Hanif Faisol Nurofiq kemudian merujuk data BMKG yang memperkirakan curah hujan kurang dari 100 mm per bulan, atau rata-rata di bawah 5 mm per hari.

“Kondisi ini meningkatkan potensi hari tanpa hujan, sekaligus menghambat upaya modifikasi cuaca untuk pencegahan karhutla,” kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq di Jakarta, Rabu 22 April 2026.

Hanif menegaskan, pemantauan tinggi muka air tanah gambut mesti menjadi prioritas utama pemerintah daerah, utamanya Dinas Lingkungan Hidup setempat.

Dia mengingatkan beberapa wilayah menunjukkan penurunan drastis hingga 150 cm dan 80 cm. Secara umum, kondisi gambut dianggap relatif aman jika tinggi muka air berada di atas 40 cm dari permukaan tanah.

“Penurunan di bawah 80 cm menjadi indikator meningkatnya risiko kebakaran. Oleh karena itu, kita perlu mengantisipasi kondisi tersebut, langkah-langkah operasional yang ditekankan yakni pemetaan detail tinggi muka air tanah di seluruh wilayah pengawasan, serta aktivasi dan pemasangan alat pemantau (logger) secara otomatis maupun manual,” tambahnya.

Menteri Lingkungan Hidup juga meminta jajarannya agar fokus menangani karhutla di areal perusahaan konsesi atau yang memiliki konsesi, baik itu perkebunan maupun perusahaan di bidang kehutanan.

“Maka, lakukan akselerasi untuk mendorong mereka melakukan pengawasan tinggi muka air tanah. Selanjutnya, lakukan permintaan dengan detil lokasi-lokasi kanal yang berada di daerah gambut masing-masing yang diawasi,” tuturnya.

Selain itu, Hanif juga meminta dilakukan reaktivasi kelompok masyarakat peduli api di wilayah rawan, serta identifikasi kebutuhan pendanaan dan koordinasi lintas kementerian.

“Langkah-langkah tersebut dirancang sebagai respons terhadap penurunan drastis tinggi muka air gambut serta meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau panjang. Persiapan teknis, koordinasi lintas sektor, serta keterlibatan masyarakat menjadi elemen penting dalam strategi awal penanggulangan karhutla tahun ini,” katanya. (*)