KALAMANTHANA, Palangka Raya — Di awal Tahun 2026 ini, dua komoditas utama penyumbang inflasi adalah listrik dan emas. Meski demikian, inflasi bulanan di kota Cantik Palangka Raya masih berada dalam kondisi terkendali.
Usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang dipimpin Kementerian Dalam Negeri di Kantor Wali Kota Palangka Raya, Senin (9/2/2026), Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini mengungkapkan, Listrik dan Emas penyumbang inflasi, namun masih terkendali.
“Hari ini kami kembali mengikuti rakor pengendalian inflasi yang dipimpin langsung oleh Kemendagri,” ujarnya.
Menurut Zaini, kenaikan inflasi tahunan terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia, termasuk Palangka Raya. Di daerah ini, andil terbesar berasal dari sektor listrik dan emas. “Dua komoditas yang paling besar menyumbang inflasi adalah listrik dan emas,” katanya.
Ia menjelaskan, inflasi pada sektor listrik bukan disebabkan kenaikan tarif, melainkan berakhirnya kebijakan subsidi 50 persen yang masih berlaku pada Januari 2025. “Kalau dibandingkan Januari tahun lalu, saat itu masih ada subsidi listrik dari pemerintah. Sekarang kondisinya sudah kembali normal,” jelasnya.
Selain itu, tren kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir turut mendorong inflasi tahunan. “Harga emas terus naik, sehingga ketika dibandingkan dengan tahun lalu, inflasi Januari 2026 terlihat lebih tinggi,” lanjutnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year on year) Kota Palangka Raya tercatat sebesar 4,61 persen, sementara inflasi bulanan (month to month) hanya 0,39 persen. “Data BPS menunjukkan inflasi tahunan memang cukup tinggi, namun secara bulanan masih rendah,” tuturnya.
Zaini menambahkan, rendahnya inflasi bulanan menunjukkan pergerakan harga dari Desember 2025 ke Januari 2026 relatif terkendali, sehingga kondisi harga di Palangka Raya masih dalam batas aman. (Mit).