KALAMANTHANA, Palangka Raya — Aliansi Cipayung Plus Kalimantan Tengah kembali menegaskan komitmennya untuk mengawal aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kalteng pada 1 September 2025. Tindak lanjut gerakan tersebut diwujudkan melalui pertemuan resmi dengan Sekretaris Dewan Provinsi Kalteng di Palangka Raya, Senin (15/9/2025).

Koordinator lapangan aksi, Andri Mulyanto, menyebut pertemuan itu sebagai bentuk konsistensi gerakan mahasiswa dan organisasi kepemudaan dalam memperjuangkan isu-isu strategis daerah. “Kami hadir untuk menindaklanjuti aspirasi yang telah disampaikan. Kajian tuntutan juga kami bawa sebagai landasan kritis,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Sekretariat Dewan menyampaikan bahwa tindak lanjut akan dilakukan melalui pertemuan di DPR RI pada Rabu (17/9). Aliansi Cipayung Plus memastikan akan hadir langsung di Jakarta untuk menyuarakan isu nasional dan daerah. “Tuntutan dari Kalteng memiliki dimensi nasional, dan itu akan kami bawa ke Senayan,” tegas Andri.

Selain isu nasional, aliansi menyoroti konflik agraria dan kriminalisasi masyarakat adat yang dinilai masih marak terjadi di Kalimantan Tengah. Mereka mendesak DPRD Kalteng segera membentuk panitia khusus (Pansus) untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut secara kelembagaan.

Diskusi mengenai mekanisme Pansus dan agenda kerja DPRD disebut sebagai langkah awal konkret yang ditunggu publik. “Mahasiswa hadir sebagai mitra kritis, mendorong DPRD tidak hanya menyalurkan aspirasi ke pusat, tetapi juga menyelesaikan persoalan daerah,” tambah Andri.

Aliansi juga membuka kemungkinan unsur pimpinan DPRD Kalteng akan ikut mendampingi keberangkatan ke Jakarta, sebagai bentuk keseriusan legislatif daerah dalam mengangkat isu lokal ke tingkat nasional.

Gerakan mahasiswa di Kalteng kembali menunjukkan perannya sebagai kekuatan moral yang menuntut transparansi dan keberpihakan DPRD terhadap rakyat. Publik kini menanti apakah dorongan pembentukan Pansus dan pengawalan isu agraria akan benar-benar dijalankan, atau hanya berhenti pada simbolis kehadiran ke Senayan. (Mit).