KALAMANTHANA, Sampit – Dugaan pencemaran lingkungan mencuat di Sampit, Kotawaringin Timur. Titiknya, sekitar eks gudang karet. Kata warga, baunya menyengat, bikin muntah.
Warga yang bermukim di sekitar eks gudang karet PT Sampit di Jalan Juanda mengeluhkan bau menyengat berulang yang disinyalir berasal dari aktivitas penampungan limbah sawit. Bau itu dinilai telah mengganggu kenyamanan hingga kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Diperparah Truk CPO, Jembatan Patah Makin Parah, Kapan Dibangun Permanen?
Bau tak sedap tersebut dilaporkan kerap muncul pada malam hingga dini hari. Aroma menyengatnya berbeda dari bau karet yang sebelumnya biasa tercium di kawasan itu.
Warga menilai bau tersebut semakin parah dalam beberapa waktu terakhir.
“Kalau baunya muncul, sangat menyengat. Rasanya mau muntah, dada juga terasa sesak. Ini jelas mengganggu kesehatan,” ujar warga setempat Lili, Minggu 18 Januari 2026.
Baca Juga: Begini Kronologis Aksi Warga Temukan Toyota Agya Tabrak Bocah Hingga Tewas
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya yang menyebut kawasan tersebut berada di tengah permukiman padat, sehingga dampak bau menyengat sangat dirasakan masyarakat.
“Dulu bau karet, kami masih bisa maklum. Tapi sekarang baunya berbeda, lebih tajam, dan diduga dari limbah sawit. Ini yang membuat kami resah,” kata Ramlah, warga lainnya.
Warga menduga eks gudang karet PT Sampit kini dimanfaatkan pihak tertentu untuk aktivitas penampungan limbah sawit, yang dinilai tidak sesuai peruntukan dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serius.
Baca Juga: Ngeri! Bocah SD Tewas Tertabrak di Jalur Sampit-Palangka, Pengemudi Agya Kabur
“Setahu kami, Amdal di lokasi itu untuk karet dan rotan, bukan untuk limbah sawit. Kalau benar ada aktivitas limbah, ini patut dipertanyakan,” tegas Dayat.
Selain bau menyengat, warga juga mengeluhkan peningkatan lalu lintas truk yang keluar masuk kawasan tersebut, yang semakin memperkuat dugaan adanya aktivitas industri yang tidak semestinya di area permukiman.
Warga menegaskan tidak ingin persoalan ini dibiarkan berlarut-larut. Mereka mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait bertindak tegas, sebelum dampaknya semakin meluas.
“Kami hanya ingin lingkungan yang sehat. Jangan sampai warga terus jadi korban,” harap Dayat. (*)