KALAMANTHANA, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ekonomi kerakyatan. Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, Pemkab Kotim menyiapkan sebanyak 120 unit stan Pasar Ramadan untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Sampit.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan UMKM, menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, sekaligus menghadirkan pusat kuliner dan ekonomi rakyat yang terjangkau selama Ramadan.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) Kotim, Johny Tangkere, mengatakan Pasar Ramadan tahun ini tetap dipusatkan di lokasi strategis agar mudah diakses masyarakat dan tetap ramai dikunjungi.
“Kami sudah menyiapkan 70 stan di depan Pasar Eks Mentaya, samping Taman Kota Sampit, serta 50 stan di Jalan Yos Sudarso, tepatnya di depan Swalayan UMKM Sampit. Lokasinya tetap seperti tahun lalu karena dinilai efektif dan strategis,” ujar Johny, Rabu (4/2/2026).
Dari total 120 stan yang disediakan, sebanyak 70 stan dikelola langsung oleh Dinas Perdagangan, sementara 50 stan lainnya merupakan hasil kolaborasi dengan komunitas UMKM Harati. Kolaborasi ini dilakukan sebagai bentuk sinergi pemerintah dengan komunitas pelaku usaha, sekaligus memperluas partisipasi UMKM lokal.
“Dengan keterbatasan anggaran, pemerintah hanya mampu menyediakan 70 stan. Melalui kolaborasi dengan UMKM Harati, lebih banyak pelaku UMKM bisa terakomodasi. Ini bentuk kemitraan yang saling menguatkan,” jelasnya.
Pemkab Kotim juga tetap memberikan prioritas kepada pelaku UMKM yang secara konsisten berjualan setiap tahun di Pasar Ramadan Sampit, sebagai upaya menjaga keberlanjutan usaha dan nilai historis pasar rakyat tersebut.
Johny menegaskan bahwa stan yang disediakan oleh Pemkab Kotim tidak dipungut biaya sewa. Pedagang hanya dibebankan biaya operasional seperti listrik dan kebersihan.
Sementara itu, untuk stan yang dikelola UMKM Harati, pengaturan teknis dan biaya diserahkan kepada komunitas tersebut sesuai mekanisme internal mereka.
Lebih jauh, Pemkab Kotim berharap Pasar Ramadan tahun ini tidak hanya menjadi pusat transaksi ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang promosi produk lokal dan pelestarian kuliner tradisional daerah.
“Kami ingin Pasar Ramadan menjadi wadah kebangkitan UMKM dan kuliner khas daerah. Makanan dan kue tradisional yang jarang muncul bisa ditampilkan kembali agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkas Johny.
Dengan penyediaan fasilitas yang memadai dan kolaborasi lintas pihak, Pemkab Kotim optimistis Pasar Ramadan 2026 akan menjadi penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus ikon kegiatan masyarakat selama bulan suci Ramadan. (su)