KALAMANTHANA, Palangka Raya - Keterbatasan akses dan minimnya sarana laboratorium IPA tidak menyurutkan semangat siswa-siswi SMP Negeri 10 Palangka Raya untuk meningkatkan kemampuan literasi sains. Sekolah yang hanya dapat diakses melalui jalur sungai ini mendapat dukungan nyata dari tim dosen dan mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung beberapa minggu terakhir.

Tim dosen UPR dipimpin oleh Yunus Pebriyanto, S.Pd., M.Si bersama Dr. Vinsen Willi Wardhana, M.Si dan Yoan Theasy, S.Pd., M.Pd. Yunus Pebriyanto menjelaskan kegiatan bertujuan memperkuat literasi sains siswa melalui praktikum IPA, mulai dari pembuatan roket air, pengamatan objek mikroskopis, hingga pembuatan tempe. “Selain itu, tim dosen UPR turut mendonasikan sejumlah peralatan penunjang laboratorium IPA untuk menghidupkan kembali kegiatan praktikum yang sebelumnya terhenti akibat kerusakan fasilitas,” ujarnya, Kamis (21/11/2025).

Kegiatan diawali dengan observasi lapangan dan koordinasi bersama pihak sekolah. Tim menemukan keterbatasan akses transportasi dan internet turut berdampak pada mutu pembelajaran sains. Laboratorium IPA diketahui tidak berfungsi akibat kerusakan dan kehilangan peralatan. Berdasarkan identifikasi tersebut, tim menyusun program penguatan literasi sains melalui tiga topik praktikum utama.

Praktikum pertama adalah pembuatan roket air menggunakan botol plastik bekas. Siswa mempelajari prinsip tekanan udara, gaya dorong, dan aerodinamika secara langsung. Praktikum kedua berupa pengamatan objek mikroskopis, di mana siswa diperkenalkan pada penggunaan mikroskop dan pengamatan struktur sel. Praktikum ketiga adalah pembuatan tempe, yang mengenalkan konsep fermentasi sekaligus memberikan wawasan kewirausahaan.

Untuk mengukur dampak kegiatan, siswa diberikan pretest dan posttest pada praktikum pembuatan tempe. Hasil awal menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman konsep fermentasi dan bioteknologi sederhana.

Kegiatan ini memberi dampak jangka pendek berupa pengalaman belajar langsung, serta jangka panjang berupa penghidupan kembali budaya praktikum IPA di sekolah. Yunus Pebriyanto menegaskan kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab akademik dosen sekaligus implementasi Tridharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa UPR juga memperoleh pengalaman belajar di luar kampus sesuai Indikator Kinerja Utama (IKU).

Tim UPR berharap kerja sama berlanjut melalui program pendampingan berikutnya, termasuk pemanfaatan alat laboratorium yang telah didonasikan. “Selain meningkatkan literasi sains, kegiatan ini juga mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama terkait pendidikan berkualitas dan peningkatan kesadaran lingkungan,” jelasnya.

Kegiatan pengabdian ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang menghadirkan pendidikan sains bermakna. Dengan inovasi dan semangat kolaborasi, siswa di daerah terpencil pun dapat merasakan pengalaman belajar yang setara dan menyenangkan. (Mit).