KALAMANTHANA, Sampit – Kondisi Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono, Sampit, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, kian mengkhawatirkan.
Kerusakan yang terus berulang meski telah berkali-kali diperbaiki membuat warga mendesak pemerintah segera membangun jembatan tersebut secara permanen.
Derit panjang yang terdengar setiap kali kendaraan melintas menjadi penanda rapuhnya struktur jembatan kayu itu.
Getaran lantai kayu yang bergoyang memaksa pengendara mengurangi kecepatan, sementara rasa cemas terus menghantui warga yang melintas setiap hari.
“Kalau lewat sini pasti was-was. Jembatan ini sudah rusak parah dan tidak pernah benar-benar selesai diperbaiki,” ujar Rini, salah seorang pengguna jalur jembatan, Sabtu 17 Januari 2025.
Jembatan tua yang menghubungkan kawasan Sei Mentawa tersebut dibangun puluhan tahun lalu dan hingga kini masih menjadi jalur vital bagi aktivitas masyarakat.
Namun usia bangunan yang menua, ditambah beban kendaraan berat yang terus melintas, membuat kondisinya semakin memprihatinkan.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah papan lantai patah, paku menonjol ke permukaan, serta bagian tengah jembatan melendut.
Saat hujan turun, risiko kecelakaan meningkat drastis karena permukaan menjadi licin dan rawan membuat pengendara tergelincir ke sungai.
Kerusakan Jembatan Patah bukan kali pertama terjadi. Jembatan ini tercatat sudah berkali-kali mendapat perbaikan, namun upaya tersebut dinilai hanya bersifat tambal sulam dan tidak menyentuh akar persoalan.
Struktur rangka besi dengan lantai kayu ulin terus tergerus usia. Kondisi diperparah oleh lalu lintas kendaraan berat, terutama truk bermuatan crude palm oil (CPO) yang rutin melintas dan diduga kerap melebihi kapasitas jembatan.
“Sore sampai malam banyak truk CPO lewat. Tonasenya jelas berat. Akibatnya, jembatan yang baru diperbaiki cepat rusak lagi,” kata Rini.
Warga menilai pola perbaikan sementara hanya membuang anggaran tanpa memberikan solusi jangka panjang. Mereka mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dengan membangun ulang jembatan secara permanen demi keselamatan masyarakat.
“Ini jalur harian warga, anak-anak sekolah juga lewat sini. Jangan tunggu ada korban dulu baru dibangun,” tegas Rini.
Warga berharap, sebelum insiden serius terjadi, pembangunan jembatan permanen dapat segera direalisasikan agar jembatan tidak lagi menjadi sumber kecemasan, melainkan penghubung yang aman bagi aktivitas masyarakat. (*)